Bangsa yang Terlupakan


Bangsa yang Terlupakan

Banyak hal yang mudah sekali di lupakan oleh negara ini. Masyarakat miskin kota, anak-anak terlantar, buruh tani dan kaum-kaum papa. Mereka adalah rakyat yang menjadi keganasan kebijakan yang menjadikan mereka terabaikan.

Bangsa yang Terlupakan

Menjadi bagian kehidupan berbangsa dan bernegara merupakan hak dari setiap warga negara. Jadi mendapat segala macam fasilitas dari negara merupakan hak mereka untuk mendapatkannya. Biaya kesehatan yang murah, pendidikan yang layak, atau murahnya harga bahan pokok, serta budaya bangsa kita. Namun hampir semua ini terlupakan oleh setiap aspek masyarakat yang ada.



Banyangkan jika biaya pendidikan kita murah, maka akan sedikit sekali anak jalanan yang harus ngamen di jalan dan harus pulang malam. Akan sedikit sekali gelandangan-gelandangan di pinggir jalan yang sama sekali tidak memikirkan pentingnya pendidikan di sekolah. Walaupun ada mungkin hanya sedikit. Kita mungkin sadar kalau pndidikan merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Namun apa mereka sudah tau ataupun sadar?. Sebenarnya kita kecolongan, saat orang –orang yang katanya mendengarkan aspirasi rakyat dan mengayomi rakyat yang ada di bawah, namun mereka sibuk memikirkan bagai mana uang rakyat dapat masuk kedalam perut, kantong-kantong keluarganya masing-masing.


Kita juga melupakan bagaimana badan kita sendiri. Kita lupa kalau saat ini kita butuh dengan apa yang kita sebut kesehatan. Kita terlalu sibuk dengan apa yang di pikirkan orang lain perut sendiri kita lupa. Banyak di antara kita yang masih banyak anak-naknya harus kekurangan gizi. Pelayanan kesehatan terlalu mahal bagi mereka sehingga mereka tidak mampu memeriksakan kesehatan di rumah-rumah sakit. Parahnya mereka harus di tolak saat datang ke rumah sakit dengan dalih tidak ada kamar yang kosong lagi, dokter tidak ada, alatnya tidak lengkap dll. Alasan yang biasa di terima mereka jika ingin berobat ke rumah sakit. Sebenarnya mereka tau akan apa yang sebenarnya terjadi namun mereka dapat berbuat apa mereka hanya rakyat kecil yang memang tidak memiliki apapun. Berbeda dengan para koruptor yang bisa berobat hingga ke luarnegeri namun dengan uang rakyat.


Hal ini di perparah lagi dengan mahalnya bahan makanan pokok yang ada di pasaran. Harga bahan makanan seharusnya bisa lebih meringankan beban mereka, mengingat kita adalah negara agraris yang subur. Namun kenapa hanya untuk membeli beras mereka harus ngutang kiri-kanan. Kita lupa kita punya sumberdaya alam yang begitu melimpah sehingga beras saja kita harus mengimpornya dari negara tetangga. Kita lebih tertarik mengembangkan apa yang belum kita punya dari pada apa yang telah ada jelas di depan mata. Kita lupa berapa banyak kekayaan alam Ibu pertiwi yang ada di dalam perut bumi. Kita bisa saja menjadikan bangsa ini makmur sentosa namun kita tidak sadar bahwa kita lupa akan apa yang kita miliki.


“Sudah jatuh di timpa tangga pula” kata-kata ini dapat di ibaratkan dengan kata yang lain, yaitu “sudah lupa kecolongan pula” kita masih ingat kejadian-kejadian yang pernah mara sebelumnya. Negara tetagga kita berani mencaplok kebudayaan-kebudayaan kita sendiri. Bayangkan kebudayaan bangsa yang seharusnya dapat kita jaga, hanya menjadi bahan plagiatan bangsa lain yang lebih miskin kebudayaannya. Mereka mangakui bahwa kiebudayaan itu bisa menambah nilai lebih untuk mereka. Namun kita melupakan hal tersebut. Sehingga saat bangsa laian telah mengakui budaya kita menjadi miliknya kita kalang kabut untuk mempertahankannya. Kemana kita sebelum pengakuan kepemilikan itu muncul??? 


Lupa adalah hal yang wajar di alami oleh seorang manusia. Namun tidak wajar jika lupa harus menjadi budaya yang di agung-agungkan. Seharusnya ingatan kita dapat kembali setelah melihat keterpurukan-keterpurukan yang ada saat ini. Kita harus dapat menjadi pengingat untuk diri kita sendiri bukan malah menjadi musibah karena kecerobohan kita sendiri.


Tara Ardyanto, 23 april 2010

1 Response to "Bangsa yang Terlupakan"