BECAK TAMAN PINTAR


BECAK TAMAN PINTAR
“Ayo bu naik becak ke malioboro setelah itu muter alun alun bu naik becak cuman tiga ribu ayo..”.
“Engga Pak saya ng mau jalanke malio boro pak”
“Ayo bu ibu maw kemana saya antarkan.. naik becak saja !!!”

Itu tadi percakapan antara tukang becak dengan seorang pengunjung taman pintar salah satu tempat wisata yang terletak di jalan Panembahan senopati Yogyakarta. Tukang becak tadi mencoba untuk membujuk dan merayu para pengunjung Taman Pintar untuk mau dan sudi naik becaknya walau hanya di bayar tiga ribu saja..


BECAK TAMAN PINTARBanyak para tukang becak yang ada di tempat tempat ini. Mungkin ada sekitar 30 sampai 45 tukang becak , meraka biasa memenuhi tempat tempat wisata di jogja yang memang ramai di di kunjungi oleh para pengunjung baik dari luar maupun dalam negeri. Mereka yang mau menggunakan jasa para tukang becak adalah wisatawan yang memang di daerahnya tidak ada becak sehingga biasanya mereka terbujuk dan tergiur untuk mau di ajak berkeliling dengan menggunakan becak dengan harga yang mungkin dapat dikatakan murah jika mematok harga Rp 5000 untuk ukurs para pengunjung. Sangat luar biasa sekali memang karena jika di hitung hitung penghasilan para tukang becak ini jika mematok harga Rp5000 setiap kali Narik(mendapat penumpang) maka jika narik 5 kali maka mereka bisa mendapatkan Rp 250000 untuk di bawa pulang. Namun terkadang para pengunjung berani menawar hingga Rp2000 dan jika hanya mendapat 5 penumpang maka merek hanya mendapat penghasilan Rp 10000


Penghasilan tadi mungkin belum seberapa di bandingkan dengan uang jajan anak anak para pejabat yang menjadi pengunjung di tempat wisata ini. Anak anak yang menggunakan pakaian yang luar biasa bagus,sepatu mahal yang mungkin dapat di beli dengan hanya menggesek kartu yang di sebut credit Card atau ATM. Sedangkan para tukang becak ini harus bekerja dari pagi saat matahari masih malu untuk muncul hingga sore saat matahari telah enggan untuk menampakkan dirinya. Hanya dengan menggunakan sandal jepit pakaian kumuh dan topi caping mereka.


Mempriharinkan sekali jika dilihat. Mereka harus bercucuran keringat hanya untuk mendapat kan lembar lembar rupiah yang mungkin tidak ada apa-apanya bagi para orang orang yang mengaku membela rakyat kecil seperti para tukang becak ini namun malah menggunakan uang rakyat untuk mengisi PENJARA mereka dengan berbagi fasilitas.


Para tukang becak masih terus mencoba untuk mencari penumpang , ada yang telah mendapat kan penumpang setelah menjalani proses tawar menawar. Namun ada juga yang masih mencoba untuk mencari penumpang dengan bujuk dan rayu mereka. 


Mereka tidak pernah peduli dengan panas matahari yang membakar kulit mereka, mereka tidak pernah peduli dengan bahaya tertabrak angkutan yang lebih besar seperti bis atau mobil yang melintas di jalan itu. Yang mereka pedulikan adalah bagaimana cara agar asap di dapur mereka tetap bisa mengepul dan tetap bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari. Bagai mana cara anak mereka tetap bisa makan dari uangn halal bukan dengan mencuri hak orang lain. Yang mereka pedulikan adalah bagai mana anak-anak mereka bisa tumbuh besar dan dapat menjadi pembawa harapan besar bagi mereka untuk dapat mengubah nasib mereka.


Becak adalah kehidupan mereka. Dengan becak mereka akan mencoba terus berharap untuk bisa mengubah nasib mereka. (Tara Ardyanto)

0 Response to "BECAK TAMAN PINTAR"

Post a Comment