Jika "TDL" Naik Beban Bulanan Anak KOST Naik

Tarif Dasar Listrik Naik

Jika "TDL" Naik Beban Bulanan Anak KOST Naik

Beberapa waktu terkhir ini pemerintah telah mengeluarkan statement akan segera manaikkan Tarif Dasar Listrik (TDL) yang sudah ada. Pemerintah akan menaikkan tarif listrik sesuai dengan kebutuhan yang ada.


Hal ini sungguh sangat mengejutkan, khususnya bagi masyarakat. Padahal masih ada sarana dan prasarana penggunaan listrik yang belum terpenuhi. Dengan kata lain masih ada hak konsumen yang belum dapat terpenuhi oleh layanan dari peyedia layanan listrik (dalam hal ini PLN). Konsumen seakan-akan ditagetkan dengan kabar yang datangnya tiba-tiba. Tidak ada peringatan dan pemberitahuan terlebih dahulu. Terasa kuarang adil jika keputusannya seperti itu.

Masuk ke ranah kost, para penghuni kost biasanya adalah para perantau dari luar kota yang tinggal di pondokkan yang disebut kost. Para perantau ini biasanya adalah para pelajar, mahasiswa, dan pekerja yang belum memiliki tempat tingal tetap. Mereka memilih kost karena dinggap kost merupakan tempat yang strategis. Dekat dengan tempat kerja, dekat dengn kampus dan harga yang relatif lebih murah merupakan alasan yang biasa dilontarkan para “pejuang” ini.

Harga yang lebih murah dibandingkan harus ngontrak atau menyewa merupakan alasan yang paling dominan dikalangan perantau. Haraga satu buah kamar kost yang berukuran standar biasa berkisar 1,5 jt – 2,5 jt pertahun. Lebih murah dibanding harus menyewa satu buah rumah yang berkisar 7-10 jt pertahun. Apalagi mengotrak harus mampu untuk dapat mengajak orang lain untuk bergabung, dan nantinya biaya akan ditanggung bersama. Namun cara ini terkadang akan kurang efisien bagi orang yang baru saja datang ke suatu tempat. Karena dia belum banyak memiliki kenalan ditempat barunya.

Kost berukuran standar, 3 x 2 sampai 3 x 3 biasanya dipatok harga 1,7 sampai 2 jt belum termasuk fasilitas yang ada. Barang-barang yang bersifat skunder dari penyewa seperti lemari, rak buku, dan kasur kebanyakan disediakan sendiri oleh penyewa kost. Sedangkan untuk air, Listrik dan kebutuhan atau barang yang bersifat mutlak harus ada di kost telah disedikan dan menjadi fasilitas dari kost. Namun perlu digaris bawahi, barang yang bersifat fasilitas kost, listrik, air dan sebaginya terkadang mendapat beban pemakaian. Dengan kata lain fasilitas-fasilitas tersebut dikenai biaya pemakain.

Penggunaa listrik biasanya dikenai beban pemakaian dari barang-barang elektronik yang dibawa oleh penyewa kamar kost. Sama halnya dengan listrik airpun terkadang demikian. Semakin banyak barang elektronik yang dibawa maka akan semakin banyak beban yang akan ditanggung oleh para peyewa. Setiap barang elektronik yang dibawa biasa akan dikenai beban berkisar lima belas sampai dua puluh ribu rupiah per bulan. Dengan kata lain jika dipatok harga minimal kost-kosan sebesar 1,5 jt rupiah dan ditambah biaya listrik lima belas ribu dikali dua belas bulan maka untuk satu tahun biaya yang dikeluarkan tidak lebih dan kurang adalah Rp1.680.000. ini belum termasuk biaya makan setiap hari yang berkisar 15-20 ribu perhari.

Sepintas memang terlihat murah karena yang dipatok adalah harga minimal. Namun jika dilihat dari pemasukan yang didapatkan oleh masing-masing penyewa yang didominasi oleh mahasiswa. Jumlah ini sudah cukup untuk membuat penyakit kanker (kantong kering) dikalangan mahasiswa. 

Pendapatan rata-rata mahasiswa dari orang tua adalah 300 sampai 500 ribu perbulan. Kita patok untuk pendapatan di kisaran 500 ribu. Uang yang harus disisihkan anak-anak kos ini untuk makan berkisar 15 ribu perhari. Dengan kata lain para penyewa kos ini harus mengeluarkan dan sebesar 450 ribu untuk makan saja. Itu belum termasuk dengan biaya yang lain. Inilah yang membuat beban berlebih bagi para penghuni kost jika tarif listrik harus dinaikkan. Karena akan banyak pengorbanan yang akan dilakukan oleh para pengguna kost. Sasarannya adalah jatah makan yang seharusnya dikenakan 15 ribu perhari mungkin hanya menjadi 5000 perhari.

Barang elektronik yang biasa digunakan oleh mahasiswa umumnya adalah rice cooker, dan Laptop. Barang yang mampu mencukupi isi perut dan otak. Jika masing-masing dikenai beban 15.000 perbulan maka 30.000 lah dana untuk kedua barang itu dikeluarkan. Jika beban listrik dinaikkan bisa jadi beban untuk barang elektronik pun akan dinaikkan. Padahal dana yang didapat tiap bulannya belum tentu naik.

Seharusnya pemerintah juga harus mempertimbangkan hal-hal kecil sebelum memutuskan sesuatu. Pendapatan dari masing-masing pekerja juga harus dipertimbangkan. Karena dari para orang tua lah mahasiswa mendapat uang. Jika untuk makan saja para anak kost harus ngutang kiri kanan. Bagaimana mahasiswa ini dapat menjalankan tugasnya dengan baik jika mereka dalam keadaan lapar.

Tara Ardyanto

Reality 19 juni 2010






0 Response to "Jika "TDL" Naik Beban Bulanan Anak KOST Naik"

Post a Comment