Belajar dari “PENJAJAH”


Belajar dari “PENJAJAH”

PENDIDIKAN merupakan hal yang vital di dunia ini sebagai penentu bagaimana kebahagiaan dapat diraih dan dicapai. Masih terekam jelas dalam ingatan orang-orang tua kita dulu, dan tertulis dalam buku-buku sejarah bahwa Negara kita pernah menderita lama sekali akibat minimnya pengetahuan yang kita miliki. Bangsa ini menjadi bodoh dan alih-alaih hanya menjadi budak dari bangsa pendatang yang notabene adalah orang asing yang tidak pernah dikenal sebelumnya. Hal ini disebabkan karena pendidikan pula. 

Penjajahan Indonesia

Kurang lebih selama Tiga ratus lima puluh tahun. Bangsa ini menjadi bangsa yang tertindas akibat penjajahan Belanda yang merupakan bangsa yang pada waktu itu menjadi bangsa yang kaya dengan orang-orang berpendidikan. Kaya dengan teknologi canggih dan kemudian kaya dari hasil rampokan dari bangsa kita Indonesia.

Bagaimana belanda dapat menjadi bangsa yang luar biasa pada waktu itu? Padahal pada masa itu pula bangsa ini memiliki kekuatan yang kiranya mampu untuk dapat menjadikan bangsa in menjadi lebih baik. Tentu ini tidak akan lepas dari peran pendidikan yang ada di Belanda yang kemudian menjadika Belanda bangsa yang berani mengeksploitasi bangsa-bangsa “bodoh” yang tentu masih minim akan Sains dan Teknologi.


Bangsa-bangsa Eropa pada waktu itu, Inggris dan belanda sangat menaruh perhatian dengan Ilmu pengetahuan. Bahkan mereka muncul sebagai bangsa maju yang didukung oleh ilmu pengetahuan yang yang lebih modern dan persenjataan di laut yang lebih tangguh. Belanda Dan Inggris sama-sama bertempur dengan dukungan ilmu menejemen (administrasi pemerintahan dan perdagangan) yang lebih solid. Inggris membentuk EIC (East Indian Company) pada tahun 1600 dan Belanda membentuk VOC (Verenigde Oost –Indische Compagnie) pada 20 Maret 1602. Kedua bangsa itu menjadi sangat kaya setelah mampu menguasa ilmu mereka. Bahkann Belanda menjadi sangat kaya setelah menguasai Kepulauan Indonesia selama tiga setengah abad. Masa sulit yang pernah dialamai oleh Belanda semasa perang dengan Spanyol (1568-1648) terbayar dengan menguasai rempah-rempah dan tanaman beras di Indonesia. (Rhenald Kasali 2006:31)


Lalu bagaimana dengan Indonesia. Selama itu apakah hanya mampu diam? Bangsa ini sudah lama terpuruk dalam kebodohan yang sungguh menjerat leher bangsa hingga tidak mampu untuk bernafas. Jika Belanda mampu untuk muncul sebagai bangsa yang maju pada waktu itu seharusnya Indonesia bisa juga bisa muncul sebagai bangsa yang kuat, melihat sejarah yang pernah ada di bangsa ini. Namun karena pendidikan yang terbatas maka hancurlah harapan itu dengan seketika.


Kemudian muncul lagi pertanyaan, harus mulai dari mana jika ingin memperbaiki ini smua? Pendidikan di bangsa ini sudah terlanjur menjadi pendidikan yang output nya adalah kultur buruk yang selama ini menagtur bangsa ini. Bangsa ini menjadi lupa akan pelajaran-pelajaran masa lalu yang seharusnya mampu menjadi pengalaman dan tamparan yang keras sebagai pelajaran berharga.


Jika harus memulai dari aspek ekonomi, apa itu sempat jika tidak di barengi dengan pendidikan yang akan menunjang SDM yang baik. Ini hanya akan membentuk mental pembantu atau budak, kembali seperti masa penajajahan. Namun jika sebaliknya apakah mampu system pendidiakn berjalan dengan kondisi ekonomi yang buruk. Ini merupakan masalah yang sama dengan memakan buah simalakama.


Dua aspek mendasar di atas merupakan aspek vital yang mampu menjadikan bangsa ini jatuh dalam jurang namun juga bisa selamat hinnga puncak. Disinilah peran masyarakat dan seluruh lapisan ikut berperan dalam memajukan bangsa. Pemimpin mampu menjadikan dan membawa bangsa dengan kebijakan-kebijakan tepat dan yang dipimpin mampu memilah dan memilih apa yang telah di tentukan pemimpin. 


Kita mulai dari diri sendiri. Kita camkan bahwa kita takboleh lagi terbelenggu dalam angan-angan yang menjatuhkan. Kita tidak boleh lagi menjadi Budak dirumah sendiri. Kita harus maju. Bersemangat menuju bangsa yang satu, tanpa perpecahan tumpah darah dan kesewenag-wenangan. Kita majukan pendidikan bersaman kita bangun ekonomi yang berpihak pada kerakyatan bukan liberalis. Kita mulai dari saat ini juga kita mulai dari hal sekecil apapun itu untuk memajukan pendidikan dan ekonomi bangsa.


Kita harus banyak belajar dari bangsa-bangsa yang pernah menginjakkan kakinya di tanah air ini. Mempelajari lebih dalam tentang apa yang mereka perbuat sehingga bisa memajukan bangsa mereka. Portigis, Inggris, Bahkan Belanda adalah contoh Negara yang mampu berdiri kuat dari tanah yang kita huni saat ini. 


Saatnya kita mencontoh system pendidikan yang mereka andalkan. Atau setidaknya kita komparasiakan dengan Bangsa ini dengan maksud untuk dapat dijadikan contoh agar bangsa ini maju nantinya. 





0 Response to "Belajar dari “PENJAJAH”"

Post a Comment