Cerita Perjalanana sore, Perempatan Sagan

Cerita Perjalanana sore, Perempatan Sagan


Suatu ketika saat sore menjelang; Setelah ashar iseng saya nyalakan TV mungkin ada hiburan menarik yang bisa di tonton hari ini. Benar saja, Happy Feet diputar disalah satu Televisi swasta yang ada di negara tercinta ini. Kartun ini menceritakan tentang seekor pinguwin yang berbeda dari pinguin lainnya, di tempat dia berasal. Namanya Bumbble. Namun ternyata perbedaannya itu tidak membawa kebaikan pada Bin yang umbble, karena saat itu di lingkungannya juga sedang dalam masalah besar berupa kekurangan makanan yang parah. Hingga akhirnya Bumbble diusir karena dianggap berbeda dari yang lain dan akan memperparah keadaan. Bumbble pergi dan kemudian dia kembali dengan membawa perubahan yang berarti. Sejak saat itu pinguin yang lain memandangnya bukan lagi sebagai pinguin yang berbeda namun pinguin yang spesial.


Itu tadi sedikit cerita dari tayangan kartun yang saya tonton. Begitu banyak pelajaran yang dapat diambil dari jenis-jenis Kartun seperti ini. Walaupun jenisnya adalah filem grafis (kartun) namun ini lebih baik dari pada harus menonton sekumpulan orang-orang yang mengumbar aurat,kekerasan, gosip dan kebencian yang sering diputar di televisi kita.


Selesai kartun Happy Feet saya tonton, timbul keinginan untuk dapat melakukan sesuatu, walaupun kecil ,mengikuti Standar Tindakan Minimum,(STM) yang saya buat sendiri hehe. Hal pertama yang terpikir adalah membuat jenis filem yang sama. Heheh mungkin itu mimpi namun itu mungkin saja. Apa saja mungkin di dunia ini, Obama saja bisa jadi presiden Amerika apa lagi cuman buat filem kartun yang mendidik. Namun hal itu saya segera tepis karena hanya baru berbentuk angan-angan dan belum ada realisasinya. Yang kemudian terpikir saat itu adalah burjo yang ada di depan kost. Perut ini lapar dan harus segera diisi itu adalah hal paling kongkrit. Mie rebus pake telur itu menunya dan perut pun terisi oleh makan siang yang benar-benar terlambat. 


Setelah perut terisi, tidak ada niat untuk kembali ke kost. Hati lebih ingin melihat apa yang ada di perempatan Sagan hari ini. Tempat ini memiliki banyak nilai yang dapat diambil dalam kehidupan. Di perempatan ini, di bagian Utara, timur, selatan, dan barat memiliki cerita masing-masing. Inilah yang membuat saya sering mengunjunginya. 


Saya berencana lewat jalan colombo menuju arah barat dan kemudian berbelok ke kiri menuju arah selatan perempatan sagan. Saat itu saya jalan Kaki karena lebih nikmat. Belum sampai di perempatan sagan, masih di depan SD Negeri Samirono. Pelajaran hari ini saya dapatkan. Nampak seorang dengan berpakaian batik sedang mengamuk pada segerombolan orang tukang kunci. Saya tidak tau yang mana tukang kuncinya, untuk itu saya sebut segerombolan karena disana juga banyak orang yang menjadi sasaran amarah dari pria berpakaian rapi. 


Pakaian pria itu rapi dengan corak batik berwarna kuning yang terlihat sungguh elegan. Dia berpakakian seperti layaknya orang sedang ingin menghadiri pernikahan sahabatnya. Lengkap dengan sepatu kulit dan celana kain yang sudah disetrika sampai terlihat mencolok lipatan bekas disetrikaannya. Namun mungkin karena kunci yang mau di gunakan untuk membuka kamar malam pengantin tidak kunjung dibuat oleh sang tukang kunci, dia mengamuk di hadapan orang-oarang tersebut. Saya yang hanya numpang lewat , yaaa, hanya diam saja sambil menerka-nerka apa yang terjadi dan tidak mau tahu. Takut kalau saja, jadi masalah yang panjang.


Dalam benak saya berpikir apa saat ini oarang-orang sudah lebih cenderung menyelesaikan masalah dengan cara membentak atau dengan kekerasan. Apa lagi ini di lingkungan kampus yang mungkin orang-orangnya adalah orang-orang yang berpendidikan tinggi. Di daerah yang terkenal oleh kalangan masyarakat nasional dengan sopansantunnya dan keramahannya pula. Ohh, mungkin saja saya salah.


Perjalanan saya lanjutkan, dan saat saya melintasi bagian selatan tepatnya selatan bagian timur di pojok utara kanan jalan Prof Yohannes. Saya melihat rumah-rumah benner berdiri diantara tumpukan sampah dan semak belukar serta dilewati aliran sungai yang airnya berwarna hitam. Dapat dikatakan kawasan itu bisa dibilang kumuh dan tidak terawat sama sekali. Mengapa saya sebut rumah benner karena memang rumah itu berdindingkan benner yang biasa dipakai sebagai alat promosi suatu even atau produk baru dengan harga ratusan ribu rupiah. sekarang benner-benner besar itu disulap menjadi dinding-dinding pelindung di rumah-rumah sederhana diantara tumpukan sampah dan aliran sungai dengan air kotornya.


Awalnya saya hanya mengira kalau rumah-rumah itu dihuni oleh mereka yang tidak mampu dan anak-anak terlantar yang biasa mengemis dan mengamen di perempatan sagan. Namun ternyata suatu hal menarik saya temukan hari ini. Rumah-rumah benner itu juga di huni oleh kaum-kaum Trans gender yang biasa terlihat di sepanjang jalaan di sekitar perempatan sagan. Saya urungkan niat lebih lanjut untuk melihat lebih dalam.

Hipotesis awal saya adalah, pengemis tua yang ada di bagian barat sagan yang ada di jalan Terban bertempat tinggal disana. Begitu juga dengan anak-anak jalanan berusia sekitar tujuh sampai sepuluh tahun yang mengamen di bagian timurnya. Namun ternyata hipotesis saya belum dapat saya buktikan dengan tepat. Justru yang saya lihat adalah kaum trans gender yang mungkin sedang persiapan dengan tugas mereka saat malam tiba, Nauzubilahiminzalik.

Yang jelas sore ini saya melihat lagi apa yang sebagian orang mungkin tidak pernah menyangka. Tingkat kesejah teraan masyarakat yang sebagaian besar dapat dikatakan tidak mampu. Membawa kearah munculnya masalah-masalah sosial yang krusial. Tingkat emosi yang tinggi, munculnya rumah-rumah kumuh ditengah kota, anak-anak terlantar ,dan kaum papa yang terus bermunculan seperti jamur yang terus tumbuh. Yang perlu disayangkan adalah sampaikapan hal seperti ini akan terus berlanjut. Masalah-masalah ini jika tidak kita hadapi bersama akan terus ada sampai kapanpun karena ketidak pedulian kita. Hal ini akan terus tumbuh secara sporadis ditengah-tengah lingkungan kita semua. 

Semoga tulisan ini memberi manfaat. Menjadi nasihat baik bagi para pembaca dan penulis khususnya. Wassalm...

Tara Ardyanto

0 Response to "Cerita Perjalanana sore, Perempatan Sagan"

Post a Comment