Berbeda Tanpa Rasa Takut


Oleh : Jacinta F. Rini
Jakarta, 24 Agustus 2010

Ada masanya ketika kita ingin sekali menjadi seperti orang lain, dan meniru tingkah laku maupun kebiasaan idola kita. Saat itu biasanya kita malah membenci diri sendiri, karena dianggap kurang ini dan itu. Remaja juga mengalami masa dimana mereka ingin sekali disukai teman-teman, sampai-sampai mencoba menyamakan gaya rambut, pakaian, cat kuku, tas, sepatu, dsb meski sebetulnya tidak pas di badan maupun di kantong.


Tahun 80an rambut ala Lady Di mewabah seantero dunia dan breakdance dimana2; tahun 90an - penampilan ala Demi Moore dan heboh disko-diskoan; jaman 2000an - internet, blogs, Friendster, Facebook, Twitter, clubbing, jalan-jalan ke mall, nonton, 'gaul', dsb. Banyak perubahan dan variasi, ada yang bisa mengikuti tapi banyak pula yang merasa terasing. Ada rasa ingin ikut-ikutan, tapi tidak mampu, tidak punya modal, tidak bisa enjoy, dsb




Kenapa dipaksakan?
Sebenarnya remaja tidak ingin memaksakan diri, namun tempation untuk mengikuti gaya dan kebiasaan teman jauh lebih besar karena efeknya langsung dirasakan. Ada yang jadi sering diajak ngumpul bareng,  diajak nonton, terpilih jadi anggota ini atau itu, bahkan cuma di sapa saja hati sudah senang (karena biasanya tidak tersapa).  Semua ini bermuara pada  kebutuhan untuk membangun identitas. Untuk itu, perlu  banyak input positif untuk membangun konsep diri positif. Tidak heran, di masa ini para remaja mencari berbagai kesempatan dan kemungkinan untuk membangun identitas, termasuk  melibatkan diri  dengan kelompok yang bisa menyalurkan inspirasi, kreativitas, harapan dan membentuk nilai-nilai dirinya.
Adolescents often overidentify with heroes, such as rock stars – or form cliques that confer a kind of collective identity on them and in which they stereotype themselves, their ideals and their enemies. These behaviors are part of their effort to understand themselves and to formulate values
(Erik Erikson, psychologist)


Kebutuhan akan identitas ini yang mendorong remaja untuk join dengan kelompok. Remaja umumnya menganggap kebersamaan adalah ekspresi status, simbol dari "anak gaul" meski dengan derajat intensitas yang berbeda. Sehingga hampir semua remaja beranggapan, sendiri - adalah jelek, tanda tidak mampu bergaul, atau tidak disukai teman karena keanehan yang dimilikinya. Alhasil, remaja yang tidak banyak punya teman, atau malah tidak punya teman dekat, sering berkesimpulan kalau dirinya memang jelek, jahat, buruk rupa, tidak keren, bodoh dan seabrek atribut negatif lain, disertai perasaan marah, benci, bingung dan mungkin kesal pada diri sendiri. Yang paling pertama disalahkan, kalau tidak diri sendiri, biasanya - orang tua "kenapa saya dilahirkan seperti ini", kenapa aku tidak boleh mengecat rambutku?" Ini gara2 mama yang tidak membolehkan aku ke pesta sama teman"..dsb
Remaja umumnya sering menghadapi tekanan dari lingkungan, baik disengaja maupun tidak. Sengaja, artinya memang ada yang sengaja memojokkan remaja atau membuat ia merasa tidak nyaman, bahkan melukai perasaannya. Sementara yang tidak sengaja, bisa jadi remaja sendiri yang tidak nyaman karena dirinya tidak nyambung dengan teman-temannya.
Tekanan yang dihadapi remaja dari teman-temannya (peer pressure) jadi beban dan tuntutan yang berat karena tingginya intensitas pertemuan. Setiap hari remaja bertemu dengan teman-teman yang sama dari pagi sampai siang / sore.  Tanpa disadari, sense of self remaja digantungkan pada sikap dan reaksi orang lain terhadap mereka. Masalahnya, kalau reaksinya negatif, remaja yang sudah punya kecenderungan "kecil hati" atau lemah konsep dirinya, akan menyerap apapun yang dikatakan orang lain tentang dirinya. Ini jadi bahaya, karena belum tentu penilaian itu benar, apalagi akurat. Sementara, remaja sedang dalam proses menemukan identitas "siapakah saya".
Adolescents often experience identity confusion (about sexual urges, about important decisions that they may feel unprepared to make; want to participate in society but are afraid of making mistakes, or being misled). Teens can develop a negative identity – a sense of being potentially bad or unworthy
(Erik Erikson, psychologist)


Kondisi ini membuat remaja stress, karena itu muncul dorongan untuk mengikuti siapapun yang dianggap idola, atau menyamakan gaya hidup dan penampilan, seperti teman-teman yang jadi acuannya. Motivasinya, supaya punya satu kesamaan dengan mereka. Kesamaan itu diharapkan bisa menghilangkan elemen individu yang dia anggap tidak OK karena lebur dalam identitas kelompok. Mulailah remaja mengubah penampilan, potongan rambut, warna rambut, cat kuku seragam, bahkan agenda hidupnya juga disesuaikan dengan agenda kelompok. Masalahnya, jika kelompok itu positif dan banyak melakukan kegiatan konstruktif (yang membangun dan mengembangkan kualitas diri), remaja bisa mendapatkan manfaatnya. Masalahnya, kalau kelompok itu justru lebih banyak pengaruh negatif dan destruktif (merusak), bisa merusak konsep diri sang remaja itu sendiri bahkan menjerumuskan ke tindakan berbahaya. Apalagi kalau remaja sulit bilang "tidak" ketika diajak melakukan kegiatan yang tidak sesuai hati nuraninya.
Tentu, setiap remaja ingin bisa “standing on his own” atau berani jadi diri sendiri. Akan tetapi untuk berani bersikap demikian, remaja harus punya sesuatu yang kuat di dalam dirinya, sehingga tidak takut terhadap reaksi orang lain. Kekuatan itu bisa berupa bakat dan kemampuan yang menonjol, wawasan luas dan logika berpikir, prinsip dan nilai, atau pun sikap (attitude) positif yang sudah menjadi bagian dari karakter, misal kepedulian social, komitmen, tanggung jawab, kepemimpinan, dsb. Bagi yang belum punya kekuatan, ini saatnya mengembangkan kekuatan dari dalam supaya di masa pembentukan identitas, remaja bisa mengumpulkan bukti positif bukan dari “kata dan respon orang”, namun berdasarkan pengalaman pribadi dan tentunya, keunikan diri.

Kembangkan keunikanmu sendiri

Setiap remaja pasti punya keunikan, ada yang sudah tergali ada yang belum. Ada yang sudah dinyatakan lewat berbagai cara sehingga menjadi bakat yang menonjol. Namun tidak semua mampu menemukan mutiara di dalam dirinya.

Berawal dari minat dan hobi

Banyak cara yang bisa remaja lakukan untuk menggali keunikan. Program ekskul ada yang memfasilitasi minat dan hobi remaja. Basket, volley, bela diri, multimedia (komputer dan saudara-saudaranya), menari, menyanyi, berorganisasi, menjahit, bikin kue, aksesories, bahkan otomotif - tidak membutuhkan biaya kursus yang besar. Kalau remaja punya inisiatif, bisa menggunakan fasilitas di sekelilingnya. Di sekolah, di rumah, bahkan bagi yang berminat otomotif, bisa belajar dari melihat tetangga mengutak atik mesin kendaraan. Bagi yang hobi art and craft, banyak bahan recycle bisa dipakai dan menghasilkan uang, pula. Ini hanya contoh untuk menunjukkan, kalau ada kemauan, pasti ada jalan!
Kenapa hobi dan minat penting? Dalam proses mencari jati diri, remaja sering bingung waktu ditanya, siapakah kamu? Apa kemampuanmu? Apa kelebihanmu? Hobi dan minat sebenarnya salah satu fondasi bagi pertumbuhan karakter yang sehat. Remaja yang punya bakat dan minat diwujudkan dalam bentuk hobi, akan lebih percaya diri dan tidak mudah terpengaruh oleh pendapat atau tekanan lingkungan. Tidak mudah terbawa arus dan punya kemampuan adaptasi yang lebih baik.
Dari hobi dan minat itulah, remaja membangun tonggak jati diri sekaligus memberi gambaran misteri apa yang ingin diketahui dan kehidupan seperti apa yang ingin dilalui. Jadi kalau remaja punya beragam keunikan, berbeda dalam minat, kesukaan, keahlian, bakat dan pilihan, itu sangat wajar dan malah baik adanya. Bayangkan kalau semua remaja seragam, sewarna dan segaya, sepola pikir dsb. Jadinya mirip robot atau mass production. Perbedaan itu yang akan membuat banyak penemuan, kreasi baru, dan selalu dinamis. Kedinamisan dan keunikan itu yang membuat remaja bisa bertumbuh sesuai dengan akarnya dan mencari jalan selaras dengan panggilan hidupnya, tidak ikut-ikutan menjalani peran yang bukan diperuntukkan baginya. Kalau remaja bisa mengembangkan kekuatan diri, maka remaja tidak mudah kena peer pressure; kalau pun terkena, punya kekuatan untuk bangkit kembali karena tahu bahwa hidup tidak hanya saat ini dan teman tidak hanya dilingkungan itu saja.
Jadi tidak perlu takut berbeda, karena perbedaan itu yang bisa membawa setiap remaja menemukan identitasnya. Berbeda itu seru kok ! 
sumber: http://www.e-psikologi.com/epsi/artikel_detail.asp?id=642

0 Response to "Berbeda Tanpa Rasa Takut"

Post a Comment