Idealisme yang luntur

Idealisme yang luntur

Dari sekian banyak idealisme yang tumbuh berkembang di negara ini sekarang, hanya ada beberapa saja yang masih mencoba tetap berpegang teguh kapada harapan-harapan para pendahulu bangsa ini. menyatukan seluruh perbedaan yang ada dengan semangat satu, semangat kemerdekaan. Namun memang idealisme itu saat ini hanya dapat dilihat dari sudut-sudut ruang yang letaknya pun tak nampak dari khalayak ramai. 

Pemuda-pemuda yang memegang masa depan bangsa saat ini disibukkan dengan banyak persoalan yang bisa dibilang sepele bagi diri mereka sendiri. Namun kenyataannya memang masalah seperti itu lah yang mereka hadapi. Semangat persatuan dan kesatuan tergurus dengan semangat cuplikan-cuplikan yang memabukkan mereka dengan banyak kebohongan.

Jika kembali menilik cerita orang tua kita dahulu tentang perjuangan mereka saat seumuran dengan pemuda-pemuda saat ini, kita mungkin hanya dapat berducak kagum. Sambil nafas naik turun karean semangat yang membara saat itu juga. Namun kemudian sirna setelah itu juga. 

Pemuda saat ini (Kita) lebih banyak mendengar cerita-cerita yang di dengar oleh orang-orang yang sudah melewati masa-masa itu. Namun tidak pernah sadar dengan apa yang saat ini mereka sendiri hadapi. Pemuda lebih memilih untuk memikirkan dan berhayal tentang bisa jadi apa mereka jika mereka dapat melakukan hal yang sama dengan cerita-cerita yang mereka dengar. Tidak memikirkan apa yang dapat mereka lakukan dengan kondisi saat ini.

Orientasi


Perlu diketahui para pejuang yang telah memerdekakan bangsa ini adalah mereka yang memiliki orientasi melebihi dari apa yang mereka lihat dan mereka rasa. Ibaratkan mereka adalah para petani yang setiap harinya bekerja sebagai petani yang mengurusi sawahnya. Mereka menananm padi. Itulah orientasi mereka. Menanam apa yang seharusnya di tanam untukdapat memenuhi kebutuhan mereka tidak hanya untuk diri mereka namun juga untuk keluarga, kerabat dan masyarakat. Walaupun mereka mengerjakan sawah mereka dengan keringat dari tubuh mereka sendiri tanpa di ikuti yang lain. Namun mereka tetap ikhlas. Mereka memiliki orientasi lebih tinggi dari siapapun dan memiliki harapan yang lebih jelas dari pekerja manapun. Namun lihat sekarang apa orientasi para pejabat kita???

Orientasi seperti para petani inilah yang saat ini tidak dimiliki para pemuda. Orientasi untuk menanamkan kebaikan yang tentu tidak dapat hanya dilihat saat ini, namun kebaiakn yang dilihat pada waktunya kelak. Pemuda saat ini lebih memilih berorientasikan kepada sesuatu yang dapat memudahkan urusan-urusan mereka. Tidak mau merasa lelah dengan kerja yang dapat memuaskan hati mereka. Perbedaan orientasi ini ibaratkan langit dan bumi. Jika para petani mengharapkan memakan padi nya dengan membajak, mencangkul penuh peluh namun pemuda saat ini hanya ingin sesuatu yang cepat dan hanya kelihatan menarik dimata separti mengharapkan rumput, bukan padinya.

Orientasi pemuda bukan untuk memuaskan hati namun memuaskan isi perut dan penampilan belaka. Lebih mementingkan duinia dan seisinya bukan langit dan apa yang ada disana. Jika para pejuang melihat hal tersebut mungkin mereka akan menengis. Karena cita-cita mereka diselewengkan oleh hal-hal yang mereka dahulunya hindari. 

Penulis yakin para pejuang terdahulu mengorientasikan harapan mereka kepada hal-yang lebih besar dari sekedar kemerdekaan. Mereka mencari keridaan Tuhan yang Maha Esa. jika kita mau melihat lebih dalam lagi kita akan menemukan maksud mereka. Bukan sekedar untuk memerdekakan bangsa ini dari para penjajah. Tapi demi kebaikan yang datangnya hanya dari langit.

Untuk itu mereka menciptakan pancasila, yang mendahulukan asas keTuhanan di awal pembukaannya. Untuk dapat mengorientasikan semua urusan hanya kapada Tuhan Yang Maha Esa. kerena mereka paham konsep kehidupan yang sebenarnya yaitu semua yang hidup akan kembali kepada Penciptanya. Tidak hanya dilihat dari segi individu namun juga bangsa ini adalah pemberian Tuhan Yang Maha Esa. Lalu kemudian digunakan asas yang melihatkan hubungan antara sesamanya kemanusian yang adil dan beradap. Adil dan beradap dua kata ini yang kadang disalah artikan oleh banyak sahabat-sahabat kita. Pahamilah bahwasannya adil itu tidak harus sama. Karena keadilan tidak menekankan kepada konteks kuantitas namun kualitas. 

Mulai tanamkan kembali semangat garuda sejak dini. Kita yakin bahwa bangsa ini mampu untuk bangkit lagi dengan segala benalu yang ada di sayap dan kakinya. Jangan ajarkan pancasila kepada anak-anak jika sebagai orang tua sendiri tidak mampu mengamalkan pancasila dikehidupan sehari-hari.
(tara ardyanto)

2 Responses to "Idealisme yang luntur"

  1. Hai, tulisan yg bagus, memberi pencerahan buat anak muda. Akan lebih bagus klo penulis memperhatikan typo. ;)

    ReplyDelete
  2. typo? apa ya? Boleh saya di jelaskan?

    ReplyDelete