Semua malam ini sama dalam hujan, semua adil dan semua akan basah jika melawan

91012. Saat membuka pintu rumah si mbah tubuh ku sudah diserang oleh angin musim hujan yang kencang. “Hussssttttt…. Kencang sekali” dalam hati ku. Tak berpikir lama aku segera pamit kepada keluarga ku untuk segera menuju ke kota lagi untuk menuntut ilmu. Karen sudah empat hari aku berada di rumah si mbah dan esok hari aku harus melaksanakan ujian maka aku harus pergi malam ini juga.

“kamu  tidak nginap satu malam lagi di sini, besok pagi-pagi sekali baru berangkat” kata bude ku mengkhawatirkan kepergian ku. “tidak bude, besok pagi sekali aku harus berangkat kuliah jadi harus pergi sekarang’ jawab ku, “ Tapi kamu kan baru saja sembuh to, mbo’ yo ojo ngeyelan ngono kui to”.  Aku memang baru saja sembuh dari sakit ku. Mungkin baru tadi pagi aku benar-benar merasakan sehat tapi karena mau pulang ya aku harus pulang.
Lima menit perjalanan hujan lebat sudah mulai turun. Begitu derasnya sampai-sampai pandangan ku tak mampu melihat jelas apa yang ada di depan. “Ayo jalan terus Ra’… jangan mau kalah” si postif memberikan ku semangat, walau hanya dalam hati. ”pelan-pelan saja kamu masih punya tanggung jawab” kata sang bijak.
 
Kecepatan ku mungkin hanya berkisaran 55-65 km/jam karena hujan yang turun begitu deras seperti butiran mutiara yang tumpah dari drum raksasa yang ada diatas langit sana. Kemudian terpancarkan oleh sinar-sinar lampu jalan yang kemuadian menjadi kerlap-kerlip nan indah, indah nian sekilas. Rasanya?? Wahh kalo itu jangan di Tanya…  ini hujan deras dan untungnnya hujan air kalau tadi butiran mutiara mungkin masih untung karena masih bisa dijual walaupun sudah terluka karena mutiara juga keras. Kalau yang jatuh adalah klereng lain lagi ceritanya.
Dalam perjalanan memang banyak hal yang kemudian terlihat. Orang-orang yang berteduh di bawah emperan toko, entah apapun merek motornya, berbaur  menjadi satu dengan para pengemudi kendaraan roda tiga(becak).  Di emperan toko tersebut mereka saling ngobrol, duduk-duduk, bahkan ada yang tidur. Disudut lain ada pula yang sibuk untuk menyalakan motornya karena radiator motornya kemasukan air sehingga harus berolahraga ditengah malam dengan hujan deras seperti saat ini. Di jalan ada juga yang mendorong motornya, nekat berjalan tanpa menggunakan mantel (T8l0l).
Namun disisi lain jika ingin meresapi keindahan malam, sekaranglah waktunya. Lampu-lampu kota dengan gaya tua yang menghiasi setiap penggiran jalan kota memancarkan sinar yang sungguh menawan. Air hujan yang turun memunculkan kombinasi yang indah antara sinar lampu dan beninggnya air. Aku melihatnya menjadi ingin ikut dalam gerombolan air yang jatuh kebumi namun tertempa oleh indahnya lampu-lampu itu.  “berhayal kamu Ra?” batin ku mengganggu.

Wajah-wajah ikhlas begitu terlihat di wajah orang-orang yang terjebak hujan. Mereka menikmati belaian angin malam yang bercampur dengan air hujan membasahi setiap apa saja yang bisa. Tak ada wajah mengeluh karena harus mengejar waktu ke kampus atau kekantor. Tidak ada yang merasa dirugikan oleh hujan, tidak ada yang diantara mereka yang berkata “Hujan beraninya Keroyokan”. Tidak ada yang menjadi miskin karena hujan malam ini.Mereka menikmati ini sebagai Hikmah hari ini. Merekalah manusia malam sesungguhnya yang pandai menikmati keadaan kesempitan mereka.  Semua malam ini sama dalam hujan, semua adil dan semua akan basah jika melawan.
Tato,..

0 Response to "Semua malam ini sama dalam hujan, semua adil dan semua akan basah jika melawan"

Post a Comment