Kemarin dan Esok


Kita kadang tidak menyadari tentang  waktu yang berlalu begitu saja. Kesulitan-kesulitan untuk membagi waktu yang menjadi musuh setiap langkah perjalanan hidup ini. Ada saja alasan untuk memaksa kita berlaku tidak bermanfaat bahkan bagi diri sendiri. Padahal detik-detik terus berjalan.

Seharusnya kita paham bahwa masa depan itu sangat dekat. Dekat hingga kadang kita tak pernah memahami bagaimana seharusnya memandangnya. Manusia dengan sifat pesimisnya terjebak pada pandangan-pandangan negative yang kemudian hanya mampau pasrah kepada masa depan dan dengan sifat  positive kita terlalu menganggap masa depan adalah milik kita hingga muncul kesombongan. Pernahkah terpikir yang sangat dekat bagi masadepan kita adalah ‘Nisan’. Dimana yang tertulis hanyalah nama, waktu kita memulai semua hal, dan akhir semua waktu kita. Sebongkah batu yang akan menjadi sejarah bahwa kita pernah mampir di ‘sini’.

Kebencian yang pernah hadir dalam diri kita akan menjadi sesal kemudian. Benar-benar sesal yang tak berujung saat waktu  ini digunakan sebagai ladang saling benci. Benci akibat kesombongan pribadi yang pernah menjadi kebanggaan diri. Sedangkan yang selalu memberikan catatan hitam pada apa yang dipandang pun akan lebih menyesal. Membuat diri menjadi lebih rendah serendah-rendahnya, akibat rendahnya percaya diri. Kita memang kadang terlalu berlebihan dalam memandang segala sesuatu termasuk waktu.

Sombong dan benci, redah diri dan  penakut bisa jadi adalah bagian dari kita. Akibat berlebihan memandang esok. Sehingga membuat lupa bahwa kemarin adalah waktu yang dapat dijadikan pelajaran penting bagi memandang masa depan.  Semua sudah memiliki porsi masing-masing, sebagaimana bumi dan langit saat menurunkan hujan dan menumbuhkan pepohonan.

Waktu paling lama adalah masa lalu. Diamana semua takkan berulang lagi, diwaktu dan tempat yang sama. Tangis dan tawa kemarin adalah cerita yang diceritakan waktu sekarang. Tidak ada waktu untuk menunggunya datang. Yang dulu tertawa dengan sombong mungkin saja menangis sekarang dan kemudian membenci hari kemarin. Yang kemarin mengais bisa jadi tertawa dan mensyukuri bahwa kemarin pernah terjadi. Kita tidak bisa menunggu masa ini (kemarin) Karena telah lama terjadi.

Saat menulis tulisan ini, saya sendiri termasuk orang yang merasa takut esok dan kemudian membenci yang telah terjadi. Entahlah. Kemudian disaat yang bersamaan kebanggaan juga muncul membari cahaya yang mencerahkan akal dan pikiran. Penulis benar-benar paham waktu yang terdekat memanglah kematian, dan yang paling  lama adalah masa lalu yang telah terjadi dan takkan kembali. Ini hanya sebuah ungkapan saat saya tertarik dengan masa lalu yang lebih luas dan mencoba untuk memfokuskan masa depan yang akan saya hadapi sendiri NANTI!!!