Kurikulum Pendidikan "dari" Seorang Guru

Kurikulum Pendidikan "dari" Seorang Guru[1] 

Oleh Tara Ardyanto[2]

Pendidikan merupakan tonggak dari kebangkitan bangsa. Namun dari sana kita kemudian dapat melihat banyak hal yang perlu dievaluasi dari pengadaan pendidika dinegara kita. Dengan pendidikan kita paham bagai mana mewujudkan negara yang makmur sejahtera. Kita dapat mewujudkan kehidupan yang sejahtera dan damai pun dengan pendidikan. Mencerdaskan bangsa dan negara pun kita harus paham akan pendidikan, jadi memang pendidikan adalah hal panting yang patut digunakan sebagai jalan untuk mencapai tujuan yang ingin diperoleh untuk seseorang.


Kurikulum Pendidikan dari Seorang GuruNamun dari sana juga, masih perlu banyak perbaikan dalam perjalanan menuju tujuan yang didamba-dambakan. Masih banyak kita melihat anak-anak yang putus sekolah ataupun tidak dapat melanjutkan kejenjang pendidikan yang lebih tinggi gara-gara beban ekonomi yang masih memaksa sebagian besar masyarakat untuk bekerja lebih keras sehingga melupakan pendidikan.Kurikulum pendidikan yang katanya sesuai dengan kompetensi dan mencoba menyesuaikan dengan kebutuhan dimana sekolah berada justru malah menjiplak dari kebudayaan barat yang sulit sekali diterapkan di linagkungan sekolah.  Program seperti BOS yang katanya mampu untuk dapat menanggulangi masalah-masalah pendidikan  justru terjebak oleh masalah lain yang justru tidak memiliki hubungan sama sekali dengan pendidikan. Anggaran yang dialokasikan sebanyak 20% pun ternyata masih belum dapat menjawab keterlambatan yang terjadi dalam dunia pendidikan. Mungkin saja bukan 20% anggaran yang dianggarkan oleh pemerintah dari APBN. Dari data yang diperoleh hanya 14% dana yang dialokasikan untuk pendidikan, jadi hanya sekitar  Rp 13,6 triliun dari dana seharusnya Rp 80 triliun[3]. Serta masih banyak lagi hal yang perlu dievaluasi secara khusus agar dapat membuka wawasan masyarakat bangsa.

Dari beberapa masalah yang muncul, penulis akan mencoba untuk memaparkan hasil evaluasi yang penulis lakukan tentang pengadaan kurikulum yang telah berjalan selama ini. Mengapa kurikulum yang dipilih? Kerena kurikulum adalah salah satu problem yang perlu lebih benyak dipertimbangkan dan ditelaah lebih lanjut  tentang pengadaannya sat ini. Kita mengetahui penggunaan kurikulum pendidikan di Indonesia selalu berubah-ubah menyesuaikan dengan keadaan yang ada di Indonesia. Sehingga terkesan prematur saat penerapannya dilapangan. Selain itu juga, dalam evaluasi perlu adanya focus eveluasi agar mampu memperjelas dan menampakkan apa masalah yang dihadapi, sehingga jelas pula jalan keluar yang perlu dijalani untuk menghadapi masalah yang ada.

Kajian
Kurikulum merupakan program pendidikan yang berisikan berbagai bahan ajar dan pengalaman belajar yang diprogramkan, direncanakan dan dirancang secara sistemik atas dasar norma-norma yang berlaku yang dijadikan pedoman dalam proses pembelajarn bagi tenaga kependidikan dan peserta didik untuk mencapai tujuan pendidikan (Dakir, 2010: 3)[4].

Dengan demikian kurikulum merupakan hal penting bagi dua komponen sekaligus yaitu tenaga pendidikan dan peserta didik yang menjadi subjek atau peserta didik seperti yang dibahasakan oleh Prof Dakir. Dalam pengertian ini dapat kita tarik makna bahwasannya kurikulum sudah semestinya mampu merancang sebuah program belajar yang berorientasikan pada norma-norma yang berlaku. Program ini kemudian dijalankan oleh tenaga pendidikan dan peserta didik dalam penerapannya.

Laporan ini mencoba untuk mengungkapkan seberapa jauh kurikulum yang ada dilapangan dapat diterapkan. Dengan langsung mengambil data dari sumber dari salah satu komponen yang disebutkan diatas yaitu guru. Teknik evaluasi yang digunakan adalah teknik nontes berupa wawancara.  Menurut suarsimi wawancara atau interview adalah cara yang digunakan untuk mendapatkan jawaban dari responden dengan jalan tenya jawab sepihak. (Arikunto 2009:30)

Pandangan Guru di lapangan
Enan[5], Guru Matematika di SMK Muhammadiah 2 Purbalingga, mengatakan secara terbuka bahwa banyak yang harus dievaluasi dari system pendidikan yang saat ini kita gunakan. Khususnya dalam hal kurikulum yang digunakan. Kemungkinan besar masalah yang terjadi saat ini dalam pembelajaran merupakan kesalahan dalam penggunaan kurikulum yang diterapkan saat ini.

Enan telah mengajar selama tiga tahun di SMK Muhamadiah tempat dimana ia mengajar saat ini. Selama mengajar banyak kesulitan yang ditemukan. Kesulitan yang paling khusus menurutnya adalah bagaimana mengubah sudut pandang siswa terhadap matematika yang diajarkannya. Siswa kebanyakan menganggap matematika adalah pelajaran yang rumit untuk dipelajari. Sehingga sangat semangat untuk belajarpun kurang saat akan belajar matematika.Ia junga mengajarkan les privat kepada anak-anak tentang matematika dan hampir setiap anak yang diajarkan matematika memiliki sikap yang sama kepada matematika[6].

Kuriklulum yang digunakan di sekolah yang diajarkan adalah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Kendati demikian Kurikulum yang diterapkan dianggap tidak sesuai dengan keadaan. Ia lebih memilih Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) untuk dapat diterapkan dalam sekolah. Ini dikarenakan ia menganggap bahwa KBK akan lebih baik karena potensi siswa lah yang diarahkan dalam penerapannya pembelajaran. Itu berarti secara tidak langsung kompetansi siswa digunakan sebagai acuan dalam mendesain pembelajaran.

Menurutnya system yang digunakan dalam kurikulum saat ini lebih menekankan kepada kebebasan pihak sekolah untuk menentukan bagaimana pembelajaran berlangsung. Bukan sebaliknya yang seharusnya pembelajaran berlangsung berdasarkan kepada kebutuhan dari siswa sehingga dapat memberikan pengetahuan dan pemahaman yang tepat dan pas untuk digunakan kepada siswa secara langsung. Kebebasan yang ada di dalam KTSP tetap terpatok pada standar nasional sehingga dengan demikian UAS tetap digunakan dalam teknik evaluasinya. Sedangkan menurutnya UAS adalah teknik evaluasi yang seharusnya digunakan dalam KBK.

Enan menyetujui akan adanya tes dalam pelaksanaan teknik evaluasi. Namun menurutnya Teknik evaluasi yang berbentuk UAS merupakan suatu kesalahan. Lebih baik tes dalam penggunaannya tidak berdasarkan standar Nasional. Karena, kurikulum KTSP yang saat ini diterapkan berdasarkan kebebasan dari masing-masing sekolah. Walaupun sudah ada standar yang harus dipenuhi di masing-masing sekolah, tetap saja akan berbeda mutu yang kemudian terbentuk dimasing-masing tingkat satuan pendidikan tersebut. Selain itu KTSP lebih menekankan orientasi bagaimana memperoleh sebuah sertifikat bukan pengasahan kompetensi yang dibutuhkan.

Daftar pustaka:
Arikunto, Suharsimi. 2009. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan Edisi Revisi.  Jakarta; Bumi Aksara
Dakir.2010. Perencanaan dan Pengembangan Kurikulum. Jakarta; Rineka Cipta
Prasetyo ,Eko. 2011. Orang Miskin dilarang Sekolah. Yogyakarta ; Resist Book


[1] Hasil pelaksanaan observasi evaluasi pendidikan yang diadakan melalui interview dengan guru yang berbeda instansi. Tema yang diangkat adalah masalah pengadaan kurikulum yang telah berlangsung selama ini. Ditulis pada April 2012.
[2] Mahasiswa jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta
[3] Lih Eko Prasetyo, Orang Miskin dilarang Sekolah. September 2011 Hal: 18
[4] Prof. Drs. H. Dakir, Perencanaan dan Pengembangan Kurikulum, maret 2010 hal 3
[5] Enan S.Pd  guru matematika di SMK Muhammadiah 2 Purbalingga, saat ini dia sedang menempuh pendidikan Strata dua di Universitas negeri Yogyakarta.
[6] Mengajar prifat Ini dilakukan Enan saat berada di Yogyakarta disela kesibukannya.

0 Response to "Kurikulum Pendidikan "dari" Seorang Guru"

Post a Comment