Ruang lingkup Evaluasi kurikulum

Ruang lingkup Evaluasi kurikulum

(Pendahuluan serta Evaluasi dan pengembangannya)

Oleh : Tara Ardyanto


Ruang lingkup evaluasi kurikulum berkaitan erat dengan konsep pengembangan kurikulum. Dapat diakatakan untuk melihat apa saja ruang lingkup kurikulum kita harus mampu memahami konsep dasar pengembangan kurikulum.  Pengembangan kurikulum (Curikulum development) merupakan istilah yang komprehensif. Di dalamnya mencakup mulai dari perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi (Sudrajad: 2008). Dengan demikian ruang lingkup evaluasi sendiri tidak akan lepas dari cangkupan yang pertama dan kedua yaitu perencanaan dan pelaksanaannya.
Pada dasarnya pengembangan kurikulum mencoba untuk mengarahkan pendidikan kearah yang lebih baik. Seperti yang di ungkapkan Prof. Dakir (2010:91) “pada dasarnya pengembangan kurikulum ialah mengerahkan kurikulum sekarang ketujuan pendidikan yang diharapkan karena adanya berbagai pengaruh yang bersifat positif yang datangnya dari luar atau dari dalam sendiri…”. Maka pengembangan kurikulum pendidikan Indonesia saat ini selalu dioptimalkan kearah yang lebih baik. Dengan mengoptimalkan kompetensi yang telah ada.
Proses perencanaan mencoba untuk menganalaisis masalah yang berkembang di dalam masyarakat. Dari masalah ini kemudian dicoba untuk mengidentifikasi apa saja potensi yang dapat dipilih dalam upaya pengembangan kurikulum kearah yang lebih baik. Kemudian diproses dalam proses pengkajian guna mendapatkan ide tentang penerapan kurikulum seperti apa yang sesuai dengan keinginan dan tujuan yang telah ditetapkan. Dalam hal ini tujuan pendidikan Indonesia adalah indicator dari tujuan yang ingin dicapai. Hasilnya biasa berupa standar isi dan standar kompetensi  lulusan yang ingin dibentuk.
Proses pengembangan kurikulum berikutnya adalah proses pelaksanaan. Ide yang telah didapatkan dalam proses perancangan kemudian diaplikasikan atau transfer dalam bentuk nyata. Sebelum tahun 2004 proses pengembang ide dan pengembang dokumen kurikulum dilakukan ditingkat nasional dan dibedakan dengan para pelaksana kurikulum. Setelah tahun 2004 para pengembang ide kurikulum dilakukan oleh sejumlah kecil para ahli di tingkat nasional tetapi para pengembang dokumen kurikulum dan pelaksananya adalah para guru, kepala sekolah bahkan komite sekolah.
Dari penjelasan singkat diatas dapat ambil sedikit kesimpulan maka ruang lingkup evaluasi sesuai berdasarkan pada proses pengembangan kurikulum itu sendiri, yaitu

-           pengembangan ide kurikulum ditingkat nasional
-           pengembangan dokumen ditingkat satuan pendidikan
Evaluasi dan pengembangan kurikulum
Saat ini pembahasana kurikulum lebih banyak merupakan masalah mata pelajaran. Jam-jam mata pelajaran dan bagaimana mencocokkannya dilapangan. Namun manusia seperti apa yang diharapkan muncul dari kurikulum yang dibuat jarang sekali untuk didiskusikan. Sekiranya tidak salah jika ada yang mengatakan bahwasannya tujuan pendidikan nasional hanyalah penyataan diatas kertas saja tidak ada pengaruhnya bagi pendidikan saat ini. Sehingga dapat dikatakan tujuan mata pelajaran tidak ditentukan dari jenis manusia seperti apayang harus dibentuk dari sebuah kurikulum.
Hal ini terus berlanjut saat kurikulum dirubah menjadi kurikulum berbasis kompetensi seperti saat ini. Kurikulum masih belum dapat menjawab masalah-masalah yang kemudian di “judgment” sebagai akibat dari kurikulum yang berlangsung saat ini. Dengan demikian kurikulum saat ini masih belum atau sedang berproses dalam perbaikan manusia Indonesia sesuai dengan tujuan pendidikan nasioanal. Adapaun bunyi nya : UUD 1945 (versi amandemen) pasal 31 ayat 3  “Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta ahlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang” Dan dijabarkan dalam Undang-Undang no 20 tahun 2003 pasal 3 yang berbunyi "Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab." Tentu ini menjadi evaluasi dan tanggung jawab serta tantangan bersama dengan mewujudkan kurikulum yang telah di cita-citakan oleh bangsa.
Hamid Hasan dalam bukunya evaluasi kurikulum (2009:103), menjelaskan secara konseptual bahwasannya kurikulum merupakan rancangan dan proses pendidikan yang dikembangkan oelh pengembang kurikulum sabagai jawaban terhadap tantangan komunits , masyarakat, bangsa dan umat manusia yang dilayani oleh kurikulum tersebut. Secara ideal tantangan yang dimaksud adalah kualitas manusia seperti yang telah dijelaskan diatas. Yaitu begaiaman mewujudkan manusia sesuai yang dicita-citakan oleh bangsa dan Negara.maka  untuk itu lah kurikulum perlu berorientasi kepada masa depan.
Tantangan lain, yang ada merukan hasil identifikasi dari berbagai kejadian yang telah terjadi. Degan kata lain tantangan yang terjadi selam ini adalah hasil dari identifikasi masyarakat yang bertolah belakang dari tantangan yang ideal. Kita sebut saja tantangan tersebut merupakan masalah yang muncul karena bertolak belakang dari tujuan yang diharapkan. Masalah-masalah ini lah yang kemudian diidentifikasi dan dianalisis sebagai pemantik munculnya ide-ide kurikulum  yang sesuai dengan cita-cita dan kebutuhan masa depan.
Dalam kurikulum tingkat nasioanal untuk dapat menjawab tantangan tersebut dengan memunculkan solusi berupa standar isi dan standar kompetensi lulusan berdasarkan jenjang dan jalur pendidikan. Standar ini haris mampu merumuskan kualitas dasar yang harus dimiliki setiap lulusan dan menjadi tugas setiap mata pelajaran untuk mengembangkannya. Selain itu standar nasional harus mampu merumuskan kualitas yang hanya mampu tercapai dengan matapelajaran tertentu. (Hasan 2009:106)
Satandar yang telah dirancang secara nasioanal ini harus dapat juga di sesuaikan atau ditambah dengan standar yang berlaku secara local. Sehingga tantangan secara local baik kota,desa, ataupun tingkat satuan pendidikan(sekolah) dapat terjawab menyesuaikan dengan kondisi lingkungan dimana kurikulum diterapkan. Dengan demikian tidak ada suatu proses pengembangan yang tidak didahului oleh suatu ide atau pemikiran mengenai kualitas hasil pendidikan yang diinginkan dari tingkat nasional(makro) sampai tiangkat pelaksanaan(mikro)


Daftar Pustaka
Dakir.2010. Perencanaan dan pengembangan kurikulum. Jakarta: rineka Cipta
Hasan, Hamid. 2009. Evaluasi Kurikulum. Bandung: Kerjasama pascasarjana UPI dengan Remaja rosdakarya
Sudrajad, akhmad. 2008. Prinsip Pengembangan Kurikulum. Diakses melalui http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/01/31/prinsip-pengembangan-kurikulum/ pada 22 October 2012.

0 Response to "Ruang lingkup Evaluasi kurikulum"

Post a Comment