Penerapan Kurikulum Pendidikan Lingkungan Hidup

Lingkungan hidup adalah salah satu masalah yang menjadi soroton banyak pihak kali ini. tidak hanya pihak-pihak yang khusus berkerja mengatasi masalah lingkungan namun  juga pihak lain yang bahkan tidak ada hubungan dengan lingkungan sekalipun ikut memikirkan masalah lingkungaan. Bank BJB menyerahkan sejumlah dana CSR kepada panitia pembangunan irigasi di desa Cibodas kecamatan Lembang pada Juli 2012 lalu. Peberian bantuan dana ini sebagai bukti kepedulian bank BJB kepada lingkungan hidup (Republika.co.id)
Banyaknya masalah yang muncul dari lingkungan memberikan efek tidak hanya pada lingkungan itu sendiri, namun pada aspek-aspek kehidupan yanglain pun demikian. Kasus banjir misalnya, secara lingkungan mungkin kebanyakan orang awam hanya akan melihat bencana ini diakibatkan kurangnya reboisasi hutan. Kemudian berdampak pada kurangnya resapan air yag kemudian mengakibatkan banjir. Namun jika ditelaah lebih dalam yang diakibatkan tidak hanya banjir, namun kebanyakan korban banjir justru lumpuh ekonominya akibat pabrik yang digunakan bekerja terendam banjir, anak-anak tidak dapat sekolah karena buku pelajaran dan sekolahnya juga ikut terndam banjir. Dari sini saja nampak lingkungan memiliki banyak peran dalam kehidupan umat manusia.
Peran dalam kehidupan yang paling menonjol adalah bagaimana lingkungan hidup ikut pula mempengaruhi pendidikan. Pendidikan yang merupakan salah satu aspek penting dalam kehidupan menjadi salah satu sorotan penting dalam pengembagan lingkunganhidup. Khususnya tentang pendidikan lingkungan hidup (PLH). Pendidikan menyediakan tempat khusus bagi lingkungan untuk dapat ikut berperan dalam memajukan taraf hidup manusia sehingga saat ini selalu dicanangkan dalam pendidikan bagaimana menjaga dan merawat lingkungan.
Salah satu aspek utama dalam memajukan pendidikan lingkungan hidup adalah dengan mengembangkan kurikulum lingkungan hidup yang telah ada saat ini. Semenjak diselenggarakan oleh Institut Keguruan Ilmu Pendidikan pada 1975, PLH terus berkembang hingga saat ini. Salah satu sekolah yang telah mampu mengintegrasikan PLH sebagai kurikulum tetap dalam pembelajarannya adalah SD Ungaran I. Karena kekonsistenan SD Ungaran I dalam penerapan kurikulum PLH, Kementrian Lingkungan Hidup (KLH) memberikan predikat sekolah peduli dan berwawasan lingkungan hidup.
Hal itu terbukti sudah tiga kali berturut-turut memperoleh piala ADIWIYATA dan terakhir tahun 2009 memperoleh predikat ADIWIYATA mandiri. predikat tersebut sudah mencapai puncak dari ADIWIYATA itu sendiri karena secara tidak langsung SD Ungaran 1 sudah diberikan otonomi penuh untuk mengelola lingkungaannya sendiri dan menjalankan terus pendidikan lingkungan hdupnya tanpa harus ada pantauan dari Badan Lingkungan Hidup.
Pendidikan Lingkungan Hidup
Dalam pendidikan banyak program pendidikan yang mencirikan dari program itu sendiri. Dengan kata lain setiap program pendidikan memiliki ciri khas masing-masing. Salah satunya adalah program kebijakan pendidikan lingkungan hidup. Kebijakan pendidikan lingkungan hidup merupakan kebijkan yang bertujuan untuk menanamkan sikap atau karakter peduli terhadap lingkungan hidup. (Nurlatifah, dkk:2012)
Program pendidikan Lingkungan Hidup pada awalnya penyelenggaraan PLH di Indonesia dilakukan oleh Institut Keguruan Ilmu Pendidikan (IKIP) Jakarta pada tahun 1975. Kemudian berkembang dan memiliki Target pencapaian jumlah sekolah Adiwiyata sampai tahun 2014 adalah 6.480 sekolah. (www.menlh.go.id)
Pada tahun 2006 Kementerian Lingkungan Hidup mengembangkan program pendidikan lingkungan hidup pada jenjang pendidikan dasar dan menengah melalui program Adiwiyata. Program ini dilaksanakan di 10 sekolah di Pulau Jawa sebagai sekolah model dengan melibatkan perguruan tinggi dan LSM yang bergerak di bidang Pendidikan Lingkungan Hidup. Ini merupakan tindak lanjut dari kesepakatan antara Departemen Pendidikan Nasional dan Kementerian Negara Lingkungan Hidup pada tahun 2005.
Adiwiyata program Kementrian Negara Lingkungan Hidup dalam rangka mendorong terciptanya pengetahuan dan kesadaran warga sekolah dalam upaya pelestarian lingkungan hidup. Dalam program ini diharapkan setiap warga sekolah ikut terlibat dalam kegiatan sekolah menuju lingkungan yang sehat serta menghindari dampak lingkungan yang negatif.
ADIWIYATA mempunyai pengertian atau makna sebagai tempat yang baik dan ideal dimana dapat diperoleh segala ilmu pengetahuan dan berbagai norma serta etika yang dapat menjadi dasar manusia menuju terciptanya kesejahteraan hidup kita dan menuju kepada citacita pembangunan berkelanjutan. Tujuan program Adiwiyata adalah mewujudkan warga sekolah yang bertanggung jawab dalam upaya perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup melalui tata kelola sekolah yang baik untuk mendukung pembangunan berkelanjutan (www.menlh.go.id)
Evaluasi Kurikulum
Menurut Pof. Anik Gufron,2009 evaluasi adalah penentuan nilai suatu program dan penentuan pencapaian tujuan suatu program. Sehingga dengan demikian evaluasi mampu untuk memberikan gambaran suatu program yang dinilai telah mencapai tujuan ataukah belum.
Evaluasi kurikulum adalah salah stu komponen yang perlu dikuasai oleh para pendidik, terutama guru. Sehingga guru harus mampu memahami bagaimana dan untk apa evaluasi kurikulum di gunakan. Hingga nantinya guru sendiri mampu untuk menilai bagaimana program kurikulum yang dijalankan di masing-masing sekolah.
Adapun fungsi evaluasi kurikulum menurut  Anik Gufron adalah sebagai berikut:
·         Pendidikan, kedayagunaan dan keberhasilan kurikulum dalam rangka mencapai tujuan pendidikan
·         Pembelajaran, kedayagunaan dan keterlaksanaan kurikulum dalam rangka pelaksanaan proses pemblajaran
·         Diagnosis memperoleh informasi atau masukan dalam rangka mengatasi kesulitan dalam pelaksanaan kurikulum
Dalam pelaksanaannya kurikulum sendiri sangat berkaitan erat dengan pembelajaran di kelas. Anik Gufron,2007, Ada berbagai model yang kiranya menggambarkan bagaiaman kaitan kurikulum dengan pembelajaran. Diantaranya adalah sebagai berikut:
·         Model Dualistis
·         Model saling mengait (interlocking)
·         Model concentrik
·         Model siklis (ciklical)
Dalam program pendidikan lingkungan hidup ini, model yang digunakan adalah model yang saling mengait (Interlocking). Dengan artian kurikulum yang digunakan dicoab untuk saling dikaitkan dengan kegiatan pembelajaran
 

Model ini digunakan dalamimplemantasi Program Pendidikan Lingkungan Hidup di SD Ungaran I Yogyakarta.
Pendidikan Lingkungan Hidup
SD Ungaran I yang sejak lama peduli terhadap lingkungan. Kemudian melalui BLH (Badan Lingkungan Hidup) SD Ungaraan I mengikuti program adiwiyata di tingkat nasional pada tahun 2006 dan mendapatkan mendali perunggu sebagai penghargaannya. Pada tahun tahun selnjutnya 2007 dan 2008, SD Ungaran I mengikuti kembali program adiwiyata dan  lolos dengan mengumpulkan portofolio.
Setelah mengikuti dan lolos  kembali dalam program adiwiyata pada tahun 2009, SD Ungaran I mendapatkan gelar Adi Wiyata mandiri dan tidak lagi mendapat pantauaan langsung dari kementrian Lingkungan Hidup (KLH). Sebaliknya justru SD Ungaran I mendapat kesempatan untuk membimbing sepuluh SD yang berada di sekitar SD Ungaran I dalam hal pendidikan Lingkungan Hidup.
Setelah menjadi adiwiyata mandiri SD Ungaran I mendapatkan dampak positif yang lebih dari berbagai sisi. Tidak hanya SD Ungaran I yang mendapatkan dampak positif dari program adiwiyata ini. Sekolah-sekolah lain yang mengikuti program adiwiyatapun mendapatkan banyak manfaat. Berikut beberapa keuntungan dari program adiwiyata
  1. Mendukung pencapaian standar kompetensi/ kompertensi dasar dan standar kompetensi lulusan (SKL) pendidikan dasar dan menengah.
  2. meningkatkan efesiensi penggunaan dana operasional sekolah melalui penghematan dan pengurangan konsumsi dari berbagai sumber daya dan energi.
  3. Menciptakan kebersamaan warga sekolah dan kondisi belajar mengajar yang lebih nyaman dan kondusif.
  4. Menjadi tempat pembelajaran tentang nilainilai pemeliharaan dan pengelolaan lingkungan hidup yang baik dan benar bagi warga sekolah dan masyarakat sekitar.
  5. Meningkatkan upaya perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup meIalui kegiatan pengendalian pencemaran, pengendalian kerusakan dan pelestarian fungsi lingkungan di sekolah.
Pelaksanaan Adiwiyata
Program dari Panduan Adi Wiyata Mandiri terdiri dari 3 program yaitu Program rutin, jangka menengah, jangka panjang. Segala bentuk kegiatan yang mendukung dikembangkan karena lingkungan memiliki cakupan yang luas dan unik.
Program – program tersebut diantaranya pemanfaatan barang – barang bekas menjadi barang keterampilan, penanaman pohon, membatik dengan bahan alami, serta program penggalian kearifan budaya lokal yang perlu dilestarikan. Sekolah  ini juga mengadakan Smutlis(Sepuluh Menit Untuk Taman dan Lingkungan) sebagai kegiatan rutin, kegitan workshop kegiatan tahunan dan kegiatan karya wisata jangka menengah.
Program rutin, Program rutin PLH yaitu semutlis, sepuluh menit untuk merawat taman dan tanaman sekolah seperti memelihara lingkungan dengan menyiram tanaman serta, pemilihan sampah.
PLH jangka menengah seperti pengolahan sampah, program ini dilaksanakan setiap minggu sekali selama 3 jam, Setap hari sabtu, Untuk kelas 1 hanya bersifat mengenalkan lingkungan hidup dengan mengenalkan tanaman dan tumbuhan, dan mengelompokkan pewarnaan sesuai dengan jenis sampah organik dan non organik.  Kelas 2 menglasifikasikan waarna alami dari buah-buahan, seperti kulit manggis yang diblender yang kemudian  diperas dan menghasilkan warna alami. Kelas 3-4,5,6 proses membuat keterampilan , mengambil kain bekas di pabrik dan menjadi produk seperti taplak, serbet, keset dll. Progam PLH jangka Panjang itu tanam pohon, keanekaragaman hayati  mengganti dan menambah tanaman yang sudah ada.
Pendidikan lingkungan Hidup dikenalkan dalam bentuk monolitik dan berintegrasi dengan semua pembelajaran dan kemudian di munculkan dan dipembelajarkan kepada siswa, seperti Sbk ( Seni Budaya Dan Kesenian ) seperti memanfaatkan barang bekas dan alat musik, kompor yang di pantau oleh orangtua.  Pelaksanaan kegiatan – kegiatan program PLH juga selalu mengikut sertakan peran siswa-siswa di SD Ungaran I. Selain itu Program PLH diselipkan diantara banyak mata pelajaran yang diterima di sekolah, namun yang paling mendukung program PLH adalah seni budaya kesenian yang diadakan pada hari sabtu.
Pelaksanaan PLH dilaksanakan dengan 3 tahap yaitu pengenalan, analisis, dan proses. Tahap pengenalan dilaksanakan pada tingkatan kelas 1 dan 2, tahap analisis pada tingkatan kelas 3 dan 4, sedangkan tahap proses pada tingkatan kelas 5 dan 6.
Segala bentuk kegiatan PLH tidak lepas dari peran orang tua, pendidik, dan sekolah. Orang tua dalam pelaksanaan PLH yaitu mendukung dan memantau secara langsung proses pelaksanaan kegiatan disekolah. Orang tua datang dan melihat apa yang dikerjakan anak dalam Program Pendidikan Lingkungan Hidup.
Guru sendiri memiliki peran penting dalam mengintegrasikan PLH ke dalam  mata pelajaran umum. Guru harus mampu menyampaikan dan mengenalkan PLH kepada peserta didik. Memilih strategi, metode, serta teknik dalam penyampaian informasi kepada peserta didik dapat dipahami.
Sedangkan sekolah memiliki peran menyiapkan segala administrasi, sarana dan prasarana serta fasilitas yang mendukung. Sekolah menjalin beberapa kerjasama dengan berbagai lembaga demi lancarnya pelaksanaan program PLH.

Bentuk evaluasi pada program PLH ini laksanakan secara langsung oleh guru. Bentuknya bisa dilihat melalui pengamatan keseharian dari siswa melalui kegiatan yang teladiselenggarakan baik di dalam kelas maupun diluar kelas.

Habatan-hambatan
Kendati demikian, Adiwiyata mandiri tanpa adanya pantauan KLH dan berubah-ubahnya kebijakan pendidikan yang baru membuat pelaksanaan program di SD Ungaran I mengalami banyak hambatan. Tentu tidak hanya masalah keungan serta sarana dan prasarana namun kebijakan-kebijakan, bahkan kebijakan dari sekolahpun berperan dalam memunculkan hambatan di program pendidikan lingkungan hidup ini.
Dalam pelaksanaan PLH di SD Ungaran I memiliki beberapa hambatan yang membuat program ini vakum sejenak. Kesulitan – kesulitan tersebut datang dari kebijakan – kebijakan yang memberikan pengaruh luar biasa. Penggabungan 3 sekolah yaitu SD Ungaran I, Ungaran II, dan Ungaran III membuat SD Ungaran I memulai dari awal pemahaman terhadap Adi Wiyata Mandiri. Perpindahan guru – guru dan kepala sekolah dalam jangka pendek yang menyulitkan pemahaman serta satu visi misi mengenai Adi Wiyata Mandiri. Hal tersebut memberikan dampak pada orang – orang yang berperan pada pelaksanaan PLH tidak banyak.
Hambatan ini kemudian menjadi semangat bagi SD Ungaran I untuk menjalin kerjasama dengan lembaga lain seperti LSM, universitas terkait, dan lembaga yang mendukung Program PLH. Tindaklanjut dari Adi Wiyata Mandiri, SD Ungaran I memiliki panduan program berupa membina 10 sekolah terdekat.
Pustaka
Gufron, Anik. 2007. Kedudukan Kurikulum dalam sisdiknas, MBS, dan Pembelajaran.  Hand Out, Matakuliah Evaluasi kurikulum PDF. Yogyakarta: Fakultas Ilmu Pendidikan UNY
Gufron, Anik. 2009. Evaluasi Kurikulum. Hand Out, matakuliah evaluasi kurikulum PDF. Yogyakarta : Fakultas Ilmu Pendidikan UNY

Kementrian Lingkungan Hidup Indonesia.2012. Informasi Mengenai Adiwiyata. Diakses melalui http://www.menlh.go.id/informasi-mengenai-adiwiyata/


Profil SD Ungaran I di akses melalui http://sdnungaransatu.blogspot.com

Republika .2013. Peduli Lingkungan, Bank bjb Berikan Bantuan di Desa Cibodas di akses melalui http://www.republika.co.id/berita/ekonomi/bjb/13/01/10/mgduhd-peduli-lingkungan-bank-bjb-berikan-bantuan-di-desa-cibodas



0 Response to "Penerapan Kurikulum Pendidikan Lingkungan Hidup"

Post a Comment