TV dan Pendidikan


Teknologi semakin berkembang setiap harinya. Banyak barang-barang moderen yang terus bermunculan yang kemudian memberikan ruang untuk komunikasi terus berkembang setiap saat. Jarak sudah tidak menjadi masalah lagi, saat perkembangan teknologi  semakin pesat. Kita dapat berkomunikasi dengan orang yang ada di belahan bumi lain dengan pesawat telpon atau handphone tanpa harus repot-repot lagi menggunakan surat sekedar menanyakan kabar pada orang yang berada di tempat yang jauh. Tentu saja ini semua berkat berkembangnya teknologi yang semakin maju.
Berkembangnya teknologi informasi semakin hari mampu memberikan efek perubahan yang cukup besar bagi berbagai pihak. Baik secara langsung ataupun tidak secara langsung, efek tersebut dapat dirasakan hampir merata bagi seluruh penduduk bumi saat ini dan dari berbagai aspek kehidupan, khususnya pendidikan. Kita tidak bisa memungkiri perkembangan pendidikan saat ini kemudian tidak terlepas dari peran teknologi yang berkembang. Secara tidak langsung teknologi yang ada di lingkungan masyarakat sudah berperan dalam membentuk masyarakat itu sedemikian rupa sehingga membentuk pola masyarakat yang baru. Rymond Wiliams menjelaskan dalam bukunya, televisi, bahwasannya teknologi-teknologi baru tercipta sebagai sesuatu yang mandiri, dan kemudian tekologi-teknologi baru tersebut menciptakan masyarakat-masyarakat baru atau kondisi-kondisi  manusia yang baru (Williams 2009: 8)
Teknologi-teknologi yang terus bermunculan dan berkembang secara simultan memberikan dampak yang tidak ringan pada kehidupan yang sedemikian kompleks. Pendidikan sebagai salah satu aspek kehidupan dimasyarakat yang menjadi kebutuhan saat ini mendapatkan dampak yang kemudian dikatakan tidak kecil dalam pelaksanaannya. Teknologi dalam pendidikan  sangat berperan aktif untuk mempengaruhi kearah mana pendidikan itu dibentuk, dengan kata lain tujuan pendidikan saat ini bergantung juga pada teknologi yaang digunakan. Semakin tinggi tujuan pendidikan yang ingin dicapai maka akan semakin besar pula peran teknologi didalamnya. Sehingga menjadikan teknologi sebagai aspek yang memberikan banyak peran bagi pendidikan dan juga pembelajaran masyarakat. Dalam hal ini teknologi telah menjelma sebagai media komunikasi yang mampu menyalurkan informasi dari komunikator kepada komunikan.
Televisi sebagai salah satu bentuk teknologi moderen dan sekaligus sebagai media komunikasi dalam kehidupan memiliki peran penting dalam membentuk masyarakat. Keunggulan televisi dalam mempengaruhi banyak orang, menempatkan televisi sebagai salah satu media yang menjanjikan dan berperan penting bagi pembalajaran masyarakat.
“Televisi telah menjadi suatu fenomena besar di abad ini, hal ini harus diakui bahwa perannya sangat besar dalam membentuk pola pikir, pengembangan wawasan dan pendapat umum, termasuk pendapat umum untuk menyukai produk-produk industri tertentu, disebabkan program siaran yang disajikan semakin lama semakin menarik, meskipun memerlukan biaya yang tinggi, sehingga tidak mengherankan kalau khalayak penonton, betah duduk berlama-lama didepan pesawat penerimanya” (Darwanto, 2011:27).
Televisi dapat sangat berpengaruh dalam membantu pembangunan bangsa. Terkhusus dalam bidang pendidikan. Upaya dalam membangun bangsa pastinya dimulai dari bagaimana memperbaiki pendidikan yang mencerdaskan dan merata. Sehingga peran televisi menjadi salah satu jalan keluar bagi berjalannya pembangunan. Bayangkan jika dalam sehari setiap individu menonton siaran televisi selama 4-5 jam, tentu pengaruhnya akan sangat besar merasuk dalam pribadi-pribadi, sehingga cepat atau lambat akan membentuk sikap, prilaku dan cara berpikir khalayak penonton. Disinilah pentingnya peran pendidikan dalam penyiaran program televisi.
Televisi merupakan salah satu bentuk media pendidikan yang memiliki peran penting bagi proses pencerdasan bangsa dengan proses yang membelajarkan khalayak penontonnya. Seperti yang disampaikan oleh Arief S. Sadiman dkk (2010:71) “Televisi adalah media yang menyampaikan pesan-pesan pembelajaran secara audio-visual yang menyampaikan pesan-pesan pembelajaran secara audio-visual dengan disertai unsur gerak”. Khalayak mampu dengan mudah menerima pesan informasi dengan cepat dengan menggunakan media audio dan visual sehingga dengan mudah pesan sampai kepada penonton. Darwanto menyampaikan bahwa pengetahuan manusia di peroleh sebesar 75% dari indra pengelihatan dan 25% dari indra pendengaran. Sehingga menjadikan televisi sebagai media informasi, sekaligus media yang mampu dengan efektif menididik dan membelajarkan khalayak.
Namun kendati demikian saat ini semakin banyak tanyangan program televisi yang jauh dari kesan pendidikannya dan membelajarkan masyarakat. Kekerasan, porno grafi, carut marut politik, acara gosip, budaya hedonisme dan konsumerisme terangkum dalam kotak ajaib yang disebut dengan televisi. Sehingga hak-hak publik yang menonton terkesan tidak diperhatikan. Diantara hak-hak-hak publik tersebut di antaranya adalah hak untuk mendapat tayangan  informasi yang sehat dan hak atas tayangan yang mendidik dan mencerdaskan.
Pada Pasal  4 Undang-undang No.32 Tahun 2002 tentang Penyiaran  disebutkan:   (1) Penyiaran sebagai kegiatan komunikasi massa mempunyai fungsi sebagai media informasi, pendidikan,hiburan yang sehat, kontrol dan perekat sosial. (2) Dalam menjalankan fungsi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), penyiaran juga mempunyai fungsi ekonomi dan kebudayaan.
Sedangkan tujuan penyelenggaraan penyiaran sebagaimana tercantum Pasal 3 adalah untuk  memperkokoh integrasi nasional, terbinanya watak dan jati diri bangsa yang beriman dan bertakwa, mencerdaskan kehidupan bangsa, memajukan kesejahteraan umum, dalam rangka membangun masyarakat yang mandiri, demokratis, adil dan sejahtera, serta menumbuhkan industri penyiaran Indonesia. Sehingga lembaga penyiaran televisi pun dituntut berpartisipasi dalam hal mencerdaskan kehidupan bangsa melalui tayangan-tayangan yang mendidik. Di samping itu   isi siaran wajib memberikan perlindungan dan pemberdayaan kepada khalayak khusus, yaitu anak-anak dan remaja, dengan menyiarkan mata acara pada waktu  yang tepat, dan lembaga penyiaran wajib mencantumkan dan/atau menyebutkan klasifikasi khalayak sesuai dengan isi siaran.
Dari dua pasal tersebut jelas fungsi dan peran pendidikan sangat nampak terlihat dalam penyiaran di televisi. Sehingga peran sebagai media yang mampu untk membelajarkan masyarakat banyak perlu dikelola dengan maksimal dengan tidak mengenyampingkan kesan-kesan hiburan dan ekonominya, yang terkadang juga mampu dijadikan sebagai sarana pendidikan.
Lalu muncul pertanyaan penting dari berbagai kalangan masyarakat tentang penggunaan televisi saat ini. Munculnya tayangan-tayangan kekerasan yang ada di televisi terkhusus pada anak dan perempuan membuat khalayak banyak yang menilai televisi tidak lagi memiliki unsur pendidikan. Eksploitasi perempuan dalam bentuk iklan dan produk-produk kecantikan menjadikan perempuan sebagai objek ‘jajanan’ yang pantas untuk dipertontonkan bahkan oleh anak-anak. Hal ini sungguh sangat menghawatirkan bagi sebagaian besar masyarakat. Apalagi anak-anak yang sedang dalam proses perkembangan dengan mencontoh apa yang dilihatnya menjadi korban terbesar dari tayangan-tayangan yang dilihatnya dari televisi. Seorang anak perempuan meminta ibunya untuk membelikan tas sekolah, buku tulis dan baju yang ada gambar tokoh-tokoh fantasi, bahkan hingga piring dan sisir mereka. Bahkan ia berani mengancam ibunya tidak akan pergi kesekolah jika permintaannya tersebut tidak dituruti oleh ibunya. (Sa’id Marsa 2009: 47)
Sebagian besar dari kita kebanyakan tidak paham bagaimana televisi digunakan sebagai media massa yang mampu dijadikan sebagai bentuk media yang mebelajarkan. Sehingga sebagaian besar dari kita merasa televisi adalah sahabat bahkan keluarga yang pantas untuk dibiarkan mendidik anak dan keluarga tanpa melihat dan memilah siaran-siaran pendidikan yang mampu membelajarkan keluarga. Ini merupakan dampak dari kekurang pahaman sebagian besar masyarakat kita dengan bagaimana pengelolaan dari siaran-siaran yanng dimuncullkan di televisi. Sehingga membuat kita membiarkan keluarga dan anak-anak kita begitu saja akrab dengan televisi.

0 Response to "TV dan Pendidikan"

Post a Comment